Desa Jalmak, Kecamatan Pamekasan
Tanaman Obat Keluarga (TOGA) memegang peranan penting dalam upaya melestarikan budaya pengobatan tradisional di Indonesia. Salah satu wilayah yang telah mengembangkan TOGA sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan kesehatan lokal adalah Kecamatan Pamekasan, Madura. Upaya ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan, puskesmas, dan komunitas masyarakat setempat. Berikut adalah hasil wawancara dengan Bu Tutik Suhartini, Ketua TP PKK Desa Jalmak sekaligus Bu Klebun Desa Jalmak, yang membahas berbagai aspek pengelolaan TOGA.
Desa Jalmak memiliki
beberapa lahan yang telah dimanfaatkan untuk menanam tanaman obat keluarga,
termasuk lahan di balai desa, dusun Tengah, dan pekarangan warga. Pemerintah
setempat memberikan imbauan kepada masyarakat melalui pertemuan PKK untuk
menanam TOGA. Jenis tanaman yang paling banyak ditanam adalah jahe, kunyit,
lengkuas, dan serai, yang sering digunakan sebagai bahan dasar minuman
tradisional unggulan bernama “Poka”. Produk ini menjadi ikon Desa Jalmak dalam
berbagai kegiatan PKK.
Awalnya, masyarakat
didorong menanam TOGA melalui lomba yang diselenggarakan oleh kecamatan. Lomba
tersebut memperkuat tradisi menanam TOGA dan menciptakan kompetisi sehat
antarwarga. Selain itu, PKK juga mengintegrasikan program TOGA ke dalam salah
satu pokja prioritas (Pokja 3). Pemerintah kecamatan dan puskesmas memberikan
pembinaan rutin, meski frekuensinya menurun sejak pergantian kepala puskesmas.
Dalam rangka meningkatkan
nilai ekonomi TOGA, pemerintah mendukung warga dengan memberikan akses
konsultasi dan fasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta izin
produk, seperti P-IRT. Event bazar dan pameran produk di kecamatan menjadi
ajang bagi masyarakat untuk memasarkan hasil olahan TOGA. Beberapa warga Desa
Jalmak telah berhasil menjual tanaman seperti rosemary di pasar lokal, meskipun
jumlahnya masih terbatas.
Pemerintah juga berusaha
mendorong pembentukan kampung ekowisata berbasis TOGA. Contohnya, Taman
Pangeremman yang baru diresmikan pada September 2023 menjadi pusat aktivitas
masyarakat yang mengusung konsep ekowisata. Lomba antar-pokja, yang melibatkan
masyarakat dalam mendesain taman TOGA berdasarkan jenis penyakit tertentu,
menjadi sarana pelestarian tradisi ini. Kecamatan Pamekasan dijadikan sebagai
kecamatan percontohan di antara 13 kecamatan lain, menunjukkan betapa seriusnya
pemerintah dalam memajukan program ini.
Salah satu tantangan
utama adalah kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat. Meski himbauan
terus dilakukan, mayoritas masyarakat cenderung lebih memilih solusi instan
seperti membeli obat di toko. Di sisi lain, beberapa individu yang memiliki
kesadaran akan pentingnya pengobatan herbal tetap aktif dalam menanam dan
memanfaatkan TOGA, terutama kaum perempuan. Tantangan lain adalah manajemen
sampah organik yang belum optimal, meskipun telah ada usaha daur ulang botol
plastik sebagai pot tanaman.
Modal sosial menjadi
kunci dalam mengembangkan produk herbal. Kolaborasi antara dinas kesehatan,
dinas pertanian, dan disperindag memberikan kontribusi besar melalui
pendampingan dan pembinaan teknis. Sistem pembagian lahan berdasarkan jenis
penyakit memudahkan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan tanaman obat.
Dengan adanya studi tiru dari desa lain, Desa Jalmak membuktikan bahwa TOGA
memiliki potensi untuk menjadi andalan perekonomian sekaligus daya tarik
pariwisata lokal.
Program TOGA di Kecamatan
Pamekasan adalah bukti nyata bagaimana sinergi antara pemerintah, organisasi
masyarakat, dan individu dapat melestarikan tradisi dan meningkatkan
kesejahteraan ekonomi. Meskipun terdapat tantangan partisipasi dan manajemen,
upaya ini menunjukkan hasil positif. Dukungan berkelanjutan diperlukan untuk
mewujudkan potensi besar TOGA sebagai bagian dari gaya hidup sehat, penggerak
ekonomi, dan ikon ekowisata.







Komentar
Posting Komentar