Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan
Tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi perhatian pemerintah daerah di Kecamatan Kota Pamekasan. TOGA bukan hanya sekadar penanaman tanaman obat, tetapi juga mencakup upaya pemberdayaan masyarakat melalui pelestarian tradisi lokal, pengolahan produk herbal, dan pengembangan kawasan menjadi kampung ekowisata. Penelitian ini mengeksplorasi peran pemerintah kelurahan dalam melestarikan TOGA dan mempromosikan manfaatnya.
Pak Ali Usman, Lurah
Kelurahan Kowel, menjelaskan bahwa saat ini terdapat empat taman TOGA di
Kecamatan Pamekasan, meliputi taman di kantor kelurahan, rumah warga, serta
kawasan KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari). Selain itu, hampir setiap rumah
warga memiliki satu atau dua tanaman obat, seperti kunyit, jahe, lidah buaya,
atau daun kelor.
Bu Vety Handayani, Ketua
TP PKK Kelurahan Kowel, menekankan bahwa program "Aku Hatinya PKK"
yang dijalankan Pokja 3 menjadi pendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan
pekarangan dengan menanam tanaman obat. Program ini memberikan edukasi dan
arahan kepada ibu-ibu PKK untuk menjaga keberadaan TOGA di rumah mereka.
Produk unggulan berbasis
TOGA di Pamekasan adalah minuman rimpang yang menggunakan rempah seperti jahe,
kunyit, dan lengkuas. Tradisi minum jamu tetap kuat di kalangan masyarakat
lokal. Masyarakat Madura lebih menyukai rasa jamu yang pahit dibandingkan masyarakat
Jawa yang lebih memilih rasa manis. Hal ini memperkuat kepercayaan masyarakat
terhadap khasiat jamu sebagai obat tradisional.
Selain itu, pemerintah memberikan dukungan dengan
menyediakan ruang untuk mempromosikan produk TOGA, seperti melalui bazar atau
suguhan produk olahan dalam pertemuan resmi. Namun, pengolahan TOGA untuk
dijual masih terbatas karena belum banyak masyarakat yang terlibat secara
serius.
Pemerintah kelurahan
secara langsung mendampingi masyarakat dengan membangun taman TOGA, memberikan
pagar pelindung, serta melakukan pembibitan tanaman bersama kelompok tani.
Selain itu, Dinas Kesehatan dan Puskesmas mengadakan pelatihan akupresur dan sosialisasi
penggunaan TOGA dalam penanganan stunting.
Meski demikian, pengembangan TOGA menjadi kampung
ekowisata masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan dana.
Menurut Pak Lurah, salah satu lahan besar yang berpotensi dijadikan ekowisata
tidak bisa diakses karena bukan milik pemerintah kelurahan. Namun, pemerintah
telah memulai langkah-langkah kecil dengan membangun taman TOGA dan melakukan
kerja bakti bersama masyarakat.
Kelurahan Kowel berambisi
mengembangkan kawasan TOGA menjadi kampung ekowisata, tetapi ini membutuhkan
anggaran besar dan dukungan dari berbagai pihak. Saat ini, modal sosial
memainkan peran penting, seperti semangat gotong royong masyarakat dalam merawat
taman dan partisipasi aktif dalam berbagai program pemerintah.
Salah satu langkah konkret adalah penyelenggaraan
lomba TOGA tingkat kecamatan yang berhasil meningkatkan motivasi masyarakat
untuk menanam. Meski hadiahnya terbatas, semangat kompetisi mampu mendorong
masyarakat lebih aktif terlibat.
Tanaman obat keluarga
bukan hanya bentuk pelestarian tradisi, tetapi juga peluang untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Meskipun banyak tantangan, peran pemerintah dan modal
sosial yang kuat di Kelurahan Kowel memberikan harapan bahwa TOGA dapat berkembang
sebagai unggulan ekonomi sekaligus pariwisata berbasis budaya lokal. Kolaborasi
pemerintah dengan masyarakat harus terus didorong agar potensi TOGA semakin
optimal.





Komentar
Posting Komentar