Ibu Enny Nurhayati : PJ Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas Teja Kecamatan Pamekasan

            Ibu Enny Nurhayati atau yang biasa disapa Ibu Enny merupakan PJ UKM Pengembangan dan juga Pelaksana Kesehatan Lingkungan, serta PJ Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas Teja Kecamatan Pamekasan. Ibu Enny bersama tim dari puskesmas teja yang memberikan sosialisasi dan pembinaan terkait pengobatan tradisional khususnya berbasis tanaman obat keluarga di wilayahnya.

Tanaman obat keluarga (TOGA) telah menjadi salah satu cara tradisional untuk menjaga kesehatan dan mendukung pengobatan alternatif di tengah masyarakat. Di Kecamatan Kota Pamekasan, pemerintah melalui berbagai instansi seperti Dinas Kesehatan dan Puskesmas telah menginisiasi program-program untuk mendorong masyarakat menanam, memanfaatkan, dan mengelola TOGA. Hal ini sejalan dengan upaya pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan tambahan pendapatan dan potensi ekowisata berbasis lokal.

Di wilayah Kecamatan Kota Pamekasan, sekitar 10% dari total lahan masyarakat digunakan untuk menanam tanaman obat. Lahan-lahan tersebut tersebar di lima desa dan lima kelurahan. Jenis tanaman obat yang banyak ditanam adalah tanaman rimpang seperti kunyit, temulawak, jahe, kencur, serta tanaman lain seperti pandan, jeruk nipis, dan jeruk purut. Di area yang didesain khusus untuk TOGA, jenis tanaman bisa mencapai ratusan, tergantung pengelolaan masing-masing lahan.

Masyarakat di Pamekasan memiliki tradisi menanam tanaman obat sebagai bagian dari kebiasaan turun-temurun. Banyak dari tanaman ini yang sudah ada di lahan masyarakat dan tetap dirawat. Selain itu, program-program pemerintah juga memengaruhi motivasi masyarakat untuk menanam TOGA, seperti melalui sosialisasi atau pembentukan taman TOGA.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan, bersama Kecamatan dan Puskesmas, telah mengembangkan berbagai program inovasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya TOGA. Salah satu inovasi unggulan adalah “Gerobak Sirsak” (Gerakan Tanaman Obat dan Akupresur Sembuhkan Segala Penyakit) yang diperkenalkan pada 2021. Inovasi ini memenangkan penghargaan tingkat provinsi dan digunakan sebagai alat sosialisasi agar masyarakat tertarik menanam tanaman obat.

Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan PKK untuk mengadakan lomba-lomba, membentuk taman TOGA di desa, dan memberikan pembinaan secara rutin. Pemerintah juga menggandeng pesantren sebagai mitra dalam melestarikan tanaman obat.

Mengembangkan TOGA sebagai tambahan pendapatan keluarga menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam aspek pemasaran dan kualitas produk. Banyak produk ramuan tradisional yang kualitasnya tidak stabil, sehingga sulit bersaing di pasar. Selain itu, proses mendapatkan izin seperti sertifikasi halal atau izin edar membutuhkan biaya dan pendampingan dari tenaga ahli, seperti apoteker.

Pemerintah menyarankan masyarakat untuk fokus pada pemanfaatan TOGA dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk gejala ringan, sebelum mengarah ke produksi skala besar. Penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas produk olahan TOGA.

Pengembangan TOGA ke arah ekowisata juga menjadi perhatian pemerintah. Beberapa taman TOGA telah berfungsi sebagai eduwisata, di mana masyarakat dan pelajar dari wilayah lain berkunjung untuk belajar tentang pengelolaan tanaman obat. Untuk mendukung hal ini, pemerintah memberikan pembinaan kepada desa dan kelurahan agar taman TOGA dikelola dengan baik. Namun, pengelolaan lebih lanjut diserahkan kepada pemerintah desa, kelompok masyarakat, atau komunitas setempat.

Pemerintah daerah menjalin jaringan sosial yang baik dengan masyarakat melalui pembinaan dan sosialisasi. Pelatihan rutin diadakan hingga dua kali dalam setahun untuk kelompok pengelola TOGA. Selain itu, pemerintah memberikan ruang di kantin Puskesmas bagi masyarakat untuk memasarkan produk olahan mereka, terutama saat ada acara tertentu seperti lomba atau bazar.

Kolaborasi lintas instansi juga dilakukan untuk mengatasi kendala dalam pengelolaan TOGA, seperti pemasaran dan perizinan. Dinas Kesehatan, PKK, dan perguruan tinggi turut dilibatkan untuk mendukung berbagai aspek, seperti peningkatan kualitas produk dan pendampingan pemasaran.

Pemerintah Kecamatan Kota Pamekasan, bersama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas, telah menunjukkan komitmen dalam mendukung pengelolaan TOGA melalui program inovasi, pembinaan, dan kerja sama lintas sektor. Meskipun masih terdapat tantangan, seperti stabilitas kualitas produk dan akses pasar, langkah-langkah strategis seperti pengembangan ekowisata dan pemberdayaan masyarakat menjadi fondasi untuk memastikan keberlanjutan program TOGA. Upaya ini tidak hanya memperkuat kesehatan masyarakat tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis kearifan lokal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desa Jalmak, Kecamatan Pamekasan

Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan