Kelurahan Kangenan, Kecamatan Pamekasan

     Tanaman Obat Keluarga (TOGA) telah menjadi salah satu cara inovatif dan tradisional dalam mendukung kesehatan masyarakat di Kecamatan Pamekasan, khususnya Kelurahan Kangenan. Upaya pelestarian ini tidak lepas dari peran serta pemerintah kabupaten, kecamatan, dan partisipasi aktif masyarakat. Melalui wawancara dengan Ibu Istikharah, Lurah Kelurahan Kangenan sekaligus Ketua TP PKK, terungkap berbagai inisiatif, tantangan, dan wacana yang tengah berlangsung.


Pemerintah Kabupaten dan Kecamatan Pamekasan berperan penting dalam mengembangkan TOGA. Salah satu strategi utama adalah memanfaatkan lahan masyarakat sebagai taman TOGA. Di Kelurahan Kangenan, telah ada 12 taman TOGA di bawah naungan Kantor PKPM, dengan masing-masing taman diwakili oleh RW setempat. Selain itu, pemerintah juga menyelenggarakan berbagai lomba kreatif, seperti lomba taman TOGA dan lomba minuman TOGA. Contoh hasil lomba meliputi minuman berbahan dasar markisa dan bandrek susu yang telah meraih penghargaan.

Tidak hanya itu, produk olahan TOGA dipasarkan melalui berbagai bazar, seperti Bazar Darma Wanita dan Bazar PKK. Pemerintah juga memfasilitasi pelaku usaha dengan sosialisasi dan bantuan legalitas, seperti Nomor Izin Berusaha (NIB), melalui kerja sama dengan Dinas Koperasi.

Kesadaran menanam tanaman obat dihidupkan melalui penyuluhan berjenjang. Pemerintah kelurahan memberikan pelatihan kepada ketua-ketua RT, yang kemudian meneruskannya kepada Dasawisma di tingkat warga. Dalam sosialisasi ini, manfaat tanaman obat serta potensi ekonominya dijelaskan secara rinci. Hal ini bertujuan untuk memperkuat motivasi masyarakat agar terus menjaga keberadaan taman TOGA di lahan masing-masing.

Pelibatan masyarakat dilakukan melalui kegiatan gotong royong. Pemerintah menciptakan budaya kerja sama melalui forum RT dan RW, di mana setiap anggota diajak mencari dan menanam tanaman obat baru guna menambah keanekaragaman TOGA yang dimiliki.

Meskipun antusiasme masyarakat cukup tinggi, beberapa kendala dihadapi dalam pelaksanaan program ini. Panjangnya musim kemarau menyebabkan kesulitan air, sehingga beberapa tanaman tidak dapat dirawat dengan baik. Selain itu, wacana pengembangan ekowisata berbasis TOGA masih terhambat, terutama karena ketersediaan lahan produktif yang digunakan untuk kebutuhan pertanian lain seperti padi dan tembakau.

Dari sisi ekonomi, pelaku usaha yang mengolah hasil TOGA sering menghadapi keterbatasan dana untuk perawatan dan pengemasan produk mereka. Meski begitu, pemerintah terus berupaya memberikan ruang dagang dan dukungan lain untuk mendorong keberlanjutan program ini.

Modal sosial memainkan peran sentral dalam menjaga keberlanjutan program TOGA. Hubungan yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan dinas terkait memungkinkan sinergi yang produktif. Misalnya, jaringan sosial antara PKK, puskesmas, dan Dinas Pertanian yang memberikan pelatihan dan fasilitas bagi masyarakat mencerminkan modal sosial yang kuat.

Partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan, seperti lomba-lomba TOGA, menunjukkan bahwa modal sosial bukan hanya berfungsi untuk melestarikan tanaman obat, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan membuka peluang pariwisata berbasis ekowisata.

Pelestarian dan pengembangan TOGA di Kecamatan Pamekasan merupakan cerminan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, upaya pelibatan masyarakat melalui sosialisasi, lomba, dan dukungan ekonomi mampu menjaga keberlanjutan program ini. Dengan pengelolaan yang lebih terorganisir, TOGA tidak hanya menjadi bagian dari solusi kesehatan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi dan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan.


 










 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desa Jalmak, Kecamatan Pamekasan

Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan

Ibu Enny Nurhayati : PJ Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas Teja Kecamatan Pamekasan