Kolektor Toga Bapak Nawir

  

Informan kedua bernama Pak Nawir, beliau adalah seorang kepala keluarga. Beliau tinggal bersama istri dan 1 cucu perempuan yang masih berumur 11 tahun. Pada tahun 1970 beliau mulai menanam tanaman toga hingga sekarang. Sehingga beliau menjadi kolektor berbagai macam tanaman toga dan menciptakan produk hasil dari tanaman toga yang beliau dikeringkan untuk dijadikan obat tradisional serta beliau juga membuat racikan olahan kopi rempah dari rempah-rempah tanaman toga. Beliau juga menjadi anggota struktur organisasi asman toga basela.


Gambar 1. Dokumentasi Hasil Observasi dan Wawancara  bersama  Kolektor Toga

Kepribadian masyarakat salah satunya adalah Kolektor tanaman obat keluarga (TOGA) di Kecamatan Pamekasan. Tindakan yang dilakukan terbentuk dari dorongan diri sendiri, nilai-nilai budaya, dan kebutuhan keluarga, serta rasa tanggung jawab sosial untuk membantu masyarakat sekitar. Peran Kolektor ini menjadikan tanaman obat keluarga sebagai pilihan utama dalam menjaga kesehatan, sekaligus sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi lokal. Faktor utama yang mendorong kolektor untuk melestarikan TOGA adalah nilai budaya yang melekat pada tanaman ini, yang dianggap penting untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Upaya pelestarian ini bertujuan agar anak-anak dapat mengenali, memahami, dan menghargai manfaat tanaman obat keluarga sebagai bagian dari identitas budaya.

Gambar 2 Taman Toga & Produk Herbal Kolektor Pak Nawir

Motivasi kolektor tanaman obat keluarga yang hingga saat ini menjadi penggiat dan peramu tanaman obat keluarga di Kecamatan Pamekasan. Nilai kesenangan dan kebahagian yang dilakukan dengan membantu tetangga dan masyarakat yang membutuhkan pengobatan herbal dipersilahkan untuk mengambil dan memetiknya sendiri tan halangan pekarangan rumah dan dipinggir pagar beliau. Beragam jenis tanaman obat keluarga yang dikoleksi memiliki manfaat pengobatan alami bagi masyarakat. Terdapat 130 jenis tanaman obat keluarga yang rawat dan dijaga oleh kolektor tanaman obat kelurga. Hal ini menunjukkan bahwa kolektor tidak hanya berperan sebagai pelestari tradisi, tetapi juga sebagai aktor yang mendukung kesehatan komunitas melalui pendekatan berbasis kearifan lokal.

“Kadang-kadang ada yang mintak tanaman toga nya saja dan ada juga yang bayar dengan dikasih uang pupuknya gitu seadanya nak, saya ngak nge-kang nak. Kadang-kadang saya juga ga mau sudah bawahlah yang penting tumbuhannya dirawat. Saya nak dari dulu ga niat untuk di jual hanya untuk orang sakit itu saja dulu niatnya saya. Kalau ada orang yang sakit saya suruh ambil-ambil sendiri tanamannya cuman di godok caranya gitu sudah.”

Kepribadian yang penuh dengan kepedulian dan kemurahan hati dalam membantu merawat lingkungan serta mendukung kesehatan sesama dengan tamanan herbal. Kolektor tanaman obat keluarga tidak mementingkan keuntungan nilai jual dari tanaman dan hasil produk ramuan tanaman obat keluarga yang diciptakan, melainkan tanaman tobat keluarga ini difokuskan pada manfaat sosial dan kesehatan yang bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan tanaman ini.   

Gambar 3. Mendata koleksi Kolektor Toga

    Kearifan lokal dalam pengelolaan tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi salah satu bentuk praktik pelestarian budaya yang memiliki nilai manfaat beragam. Tanaman obat keluarga tidak hanya dirawat dan dilestarikan sebagai warisan tradisi, tetapi juga dilakukan dengan penuh kesenangan dan komitmen oleh masyarakat. Proses perawatan ini mencerminkan kecintaan terhadap budaya lokal sekaligus kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara alami. Pelestarian tanaman obat keluarga tidak hanya mencerminkan usaha menjaga budaya lokal, tetapi juga membuka peluang untuk memperkenalkan beragam jenis tanaman obat kepada masyarakat secara lebih luas.  Hubungan sosial yang terjalin baik dengan individu yang mulai tertarik untuk menanam dan memanfaatkan tanaman obat sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Tanaman obat keluarga juga memiliki potensi pendukung nilai ekonomi, khususnya bagi masyarakat yang mengembangkan bibit atau hasil produk minuman herbal dari bahan tanaman obat keluarga. Dengan meningkatnya kesadaran dan minat masyarakat terhadap pengobatan berbasis herbal, TOGA dapat dijadikan komoditas bernilai jual yang berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Desa Jalmak, Kecamatan Pamekasan

Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan

Ibu Enny Nurhayati : PJ Pelayanan Kesehatan Tradisional di Puskesmas Teja Kecamatan Pamekasan