Penggiat dan Peramu Toga Bapak Suhairi
Hj. Suhairi. Beliau adalah seorang wirausaha jamu tradisional yang telah dibangun bersama istri-nya yang bernama Hj. Sumiati. Beliau juga sebagai Ketua Paguyuban Jamu Madura “Potreh Medureh” yang sudah terdata di Pemerintah Jawa Timur dan diberi nama HJ. Sumiati. Sehingga Cv Hj. Sumiati sudah terdata di kedokteran Peromdata. Media penjualan dari minuman jamu ibu HJ. Sumiati ini seperti pasar tradisional, dititipkan dikantin Puskesmas serta menerima pesanan langsung. Karena beliau membuat banyak jenis minuman jamu tradisional seperti pokka secang dan kunyit asam. Berbagai macam prodak beliau mulai dari bentuk cair, serbuk, perintilan yang dibuat dari tanaman herbal asli yang diracik langsung oleh Istri beliau yang memiliki keahlian dalam meramu. Karena Ibu Hj. Sumiati merupakan turunan dari nenek moyang yang dulu-nya meracik jamu tradisional.
Ketua Paguyuban Jamu Madura “Potreh Medureh,” Hj. Sumiati, mengungkapkan berbagai tantangan dan upaya dalam mempertahankan eksistensi jamu tradisional Madura. Sebagai pelaku usaha jamu yang telah terdaftar di pemerintah Jawa Timur, ia menyoroti kendala regulasi dari BPOM yang sering kali membatasi distribusi produk jamu ke luar wilayah. Izin edar yang pernah dimiliki hingga 2012 dicabut akibat aturan baru, sehingga mengharuskan pelaku usaha untuk memenuhi persyaratan yang sulit dijangkau. Hj. Sumiati juga berbagi pengalaman mengenai upaya kelompoknya dalam mempertahankan jamu tradisional melalui festival jamu, Focus Group Discussion (FGD) dengan Universitas Trunojoyo Madura, serta kolaborasi dengan berbagai pihak seperti LSM, Dinas Kesehatan, dan UMKM. Namun, bantuan konkret dari pemerintah masih minim meskipun sudah ada anjuran dari Ketua Komisi II DPRD untuk mengembangkan UKM jamu Pamekasan. Beberapa proposal yang diajukan juga belum mendapat tanggapan serius.
Meskipun menghadapi berbagai kendala, Hj. Suhairi dan Istri terus berinovasi dengan memproduksi berbagai jenis jamu seperti pokka secang dan kunyit asam dalam bentuk cair dan serbuk. Ia percaya bahwa jamu merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan untuk mendukung kesehatan masyarakat dan mencegah masalah seperti stunting. Menurutnya, konsumsi jamu tradisional memiliki nilai penting, terutama untuk mendukung kesehatan ibu menyusui dan bayi secara alami.
“saya dan istri dalam hal ini dalam rangka
mempertahankan jamu Madura khususnyaPamekasan ya kami jemput bola mbak dijual
ke masyarakat, pasar tradisional. Karena kami bukan hanya minuman embaknya yang
cicipin kemaren itu ada pokka secang dan kunyit asam. Prodak kami ada bentuk cair,
serbuk, perintilan disitu. Karena jamu Madura ini secara tidak langsung sudah
mulai hilang dari benak kaum milenial ini sedangkan yang ahli dibidang jamu
sudah mengamankan diri ke kelompok kolonial kan seperti itu. Karena kaum
millenial ini tidak mau ribet mbak maunya cepat. saya wajib mempertahankan warisan ini tujuan
nya apa minimal yang mempertahankan warisan nenek moyang kita ini yang dari
sumber daya alam sekitar ikut andil dalam mencerdaskan anak bangsa lewat jamu
ala tradisional.”
Hj. Suhairi menekankan pentingnya pembinaan dan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah terhadap pelaku usaha jamu. Dukungan seperti pemberian bibit tanaman toga, pelatihan rutin, dan pengawasan berkesinambungan akan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk menanam dan memanfaatkan toga. Ia juga mengusulkan pengembangan ekowisata berbasis toga sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, misalnya dengan menyediakan fasilitas bagi wisatawan yang ingin menikmati produk jamu langsung di lokasi.
Dalam pandangannya, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sangat diperlukan untuk melestarikan jamu tradisional. Pemerintah diharapkan memberikan pendampingan yang nyata, seperti penyuluhan, bantuan honor untuk pendamping, serta penguatan brand produk jamu melalui pembuktian manfaat secara ilmiah. Hj. Suhairi berharap bahwa dukungan ini dapat mendorong generasi muda kembali menghargai dan memanfaatkan rempah-rempah tradisional sebagai sumber kesehatan yang alami dan ekonomis. Melalui pendekatan ini, ia optimis bahwa jamu tradisional Madura dapat terus bertahan dan memberikan kontribusi nyata terhadap kesehatan dan perekonomian masyarakat, khususnya di Pamekasan.
Pengembangan ekowisata berbasis
tanaman obat keluarga (TOGA) memiliki potensi besar dalam meningkatkan
perekonomian masyarakat. Salah satu gagasan yang diusulkan adalah pembangunan
kawasan ekowisata yang dilengkapi dengan kebun TOGA dan fasilitas lesehan untuk
menyajikan produk jamu kepada para pengunjung. Contohnya, tanaman kunyit dapat
dimanfaatkan sebagai bahan minuman khas yang ditawarkan kepada wisatawan. Untuk
mendukung hal ini, peran pemerintah, baik melalui Dinas Kesehatan, pemerintah
desa, maupun kecamatan, sangat penting dalam memberikan pendampingan,
pembinaan, dan dukungan anggaran. Pendampingan yang berkelanjutan diperlukan
agar masyarakat memiliki semangat untuk melestarikan dan memanfaatkan TOGA
secara optimal.
Kerja sama dengan ahli peramu
jamu dan contoh nyata hasil produk juga penting untuk menumbuhkan kepercayaan
masyarakat terhadap keunggulan jamu tradisional dibandingkan obat berbahan
kimia. Proses penyembuhan menggunakan jamu memang cenderung lebih lambat, tetapi
lebih alami dan tanpa efek samping kimia. Produk jamu yang diolah tanpa bahan
pengawet, seperti jamu cair, biasanya memiliki daya tahan singkat, sekitar satu
hari, atau tiga hari jika disimpan di lemari es. Hal ini menunjukkan pentingnya
inovasi dan edukasi kepada masyarakat dalam memproduksi, mengemas, dan
memasarkan jamu secara efisien.
Dalam upaya ini, masyarakat
membutuhkan bimbingan intensif, khususnya oleh tenaga ahli dan pendamping yang
memiliki pengalaman di bidang jamu. Anggaran yang disediakan juga harus
dialokasikan dengan baik, termasuk untuk memberikan insentif kepada pendamping
agar mereka termotivasi membantu masyarakat. Dengan demikian, ekowisata
berbasis TOGA dapat menjadi sarana pelestarian tradisi, pemberdayaan ekonomi,
dan edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, agar kembali mengenali
manfaat jamu tradisional sebagai warisan budaya yang berharga.





Komentar
Posting Komentar