Penggiat & Peramu Taman Toga Ibu Henny
Kegiatan sehari-hari Ibu Henny sebagai ibu rumah tangga awalnya mencakup merias, menyediakan katering, dan menanam tanaman toga. Saya juga memproduksi minuman herbal yang saya kemas, seperti teh toga dengan gula batu yang sudah ditakar dalam kemasan 40 gram. Pada bulan puasa, saya membuat minuman racikan sendiri sebagai hidangan berbuka. Minuman ini tidak hanya membantu saya mengatasi asam urat dan kolesterol, tetapi juga meningkatkan imunitas, terutama saat masa pandemi COVID-19. Untuk tanaman toga, saya menanam sendiri di lahan yang ada di belakang rumah. Setiap biji jeruk atau biji tanaman lain tidak pernah dibuang, melainkan beliau tanam. Jika ada yang mati, beliau menggantinya dengan tanaman baru. Namun, kendala sering terjadi pada musim kemarau, karena banyak tanaman di depan rumah yang mati akibat panas.
Minuman herbal dari tanaman toga yang saya produksi biasanya habis dipesan langsung dari rumah biasanya pihak Puskesmas juga memesan untuk acara tertentu, terutama jika ada kegiatan dari tingkat Provinsi. Saya juga sering terlibat dalam lomba minuman toga. Dalam lomba, saya berusaha memberikan inovasi, seperti menambahkan kunyit untuk warna atau daun pandan dan daun jeruk purut untuk aroma. Salah satu lomba yang saya ikuti berhasil meraih juara pertama.
Ibu Henny mengusulkan agar minuman toga dibuat sebagai hidangan keluarga terlebih dahulu sebelum dipasarkan dalam kemasan botol. Minuman herbal ini cocok untuk menemani makanan ringan saat waktu santai. Selain itu, tanaman-tanaman toga juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami, seperti daun sepatu yang dapat menghasilkan warna merah muda jika dicampur dengan perasan jeruk nipis. Saya juga memproduksi minuman toga secara rutin sejak tahun 2023. Namun, inovasi lain terkait minuman herbal sudah saya lakukan sejak tahun 2021. Bahkan, pada tahun tersebut, saya ikut serta dalam pelatihan di Trawas, Mojokerto, yang diadakan untuk ibu-ibu kepala desa dan camat. Dalam pelatihan tersebut, saya memperkenalkan minuman herbal dengan komposisi 13 bahan, seperti buah tin, bunga mawar, melati, serai, jahe, daun mint, kapulaga, buah kersen, madu, dan lainnya. Teknik memasaknya disesuaikan dengan karakteristik bahan. Misalnya, bahan yang keras, seperti kapulaga, dimasak lebih dulu, sementara bahan yang mudah layu, seperti daun mint, dimasukkan setelah air mendidih.
Saat ini, tanaman toga terus digalakkan, terutama oleh Dinas Ketahanan Pangan. Setiap RT dan RW didorong untuk memiliki minuman unggulan dari tanaman toga. Ibu Henny dan Suami juga berharap masyarakat semakin sadar akan manfaat tanaman toga. Dengan menanam toga, selain untuk kebutuhan kesehatan, masyarakat juga dapat mengurangi pengeluaran, seperti tidak perlu membeli cabai, terong, atau mentimun karena bisa memanen sendiri.
Ibu henny juga memiliki kebiasaan menyajikan minuman herbal kepada tamu, menggantikan teh atau kopi. Minuman ini lebih sehat dan dapat dikonsumsi setiap hari. Bahkan, Pj Bupati kini rutin memesan minuman herbal setiap sebulan sekali. Dengan inovasi ini, saya berharap tanaman toga semakin dikenal masyarakat luas, terutama generasi muda. Ibu Henny dan Suami juga terus berusaha menata kebun toga saya agar terlihat indah dan menarik, sehingga anak-anak sekolah yang mampir dapat selfie di sana sekaligus belajar tentang manfaat tanaman toga. Harapan saya adalah agar masyarakat semakin aktif menanam dan memanfaatkan tanaman toga. Selain untuk kesehatan, tanaman toga juga dapat membantu masyarakat secara ekonomi jika dikelola dengan baik.





Komentar
Posting Komentar